Lukisan “Statement : Reality of Life Felt Through Behaviour” (Djunaidi Kenyut)

Statement : Reality of Life Felt Through Behaviour - Djunaidi Kenyut
0 35.754

Lukisan Statement : Reality of Life Felt Through Behaviour merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Djunaidi Kenyut.

  • Pelukis : Djunaidi Kenyut
  • Judul : “Statement : Reality of Life Felt Through Behaviour”
  • Tahun : –
  • Ukuran : 15.7 H x 29.5 W x 0.8 in
  • Media : Acrylic on Canvas

Deskripsi Lukisan Statement : Reality of Life Felt Through Behaviour

Lukisan ini terinspirasi dari sebuah panorama di jalanan yang unik. Dimana terdapat perpaduan antara mural, grafiti di tembok dan bangunan serta jalan dan nature.

Makna Tersirat

Para seniman seni lukis mencoba menyentil orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang senang mencorat-coret tembok dan membuat dinding terlihat kotor. Dengan membuat karya yang seharusnya membuat orang lain merasa senang dan nyaman saat melihatnya. Bukan sebaliknya.

Seni jalanan bukan sekadar seni yang tak bermakna karena sebagian besar dari para street artist (sebutan bagi mereka yang berkecimpung dalam seni jalanan) berhasil membawa pesan dalam setiap karya mereka. Baik itu pesan sosial maupun moral. Dengan hasil karya yang mampu membius mata dan merupakan suguhan “gratis” namun sarat akan makna.

Banyak makna yang disampaikan oleh para street artist. Seperti yang sering terlupa dari aksi korupsi. Citra diri dan masa depan dari anak-anak koruptor. Dapat saja, sang orangtua melenggangkan kaki dengan baju orange tetap dengan melambaikan tangan dan melempar senyum, tetapi tidak demikian dengan anak-anak mereka. Ada anak koruptor yang akhirnya terpaksa keluar dari sebuah kantor akibat tidak tahan dengan pergunjingan.

Korupsi jelas menjadi salah satu tema utama dalam seni mural di dinding-dinding di berbagai kota di Indonesia. Korupsi memang telah mewabah, dan menjadi musuh bersama meski tidak kunjung dapat ditaklukkan.

Ada sebuah mural yang mengarahkan khalayak untuk mendukung hukuman mati terhadap koruptor. Jenis hukuman mati yang ditawarkan bukan hukuman mati dengan tembakan senapan tetapi dengan pisau guillotine yang diperkenalkan pada masa Revolusi Perancis.

Sungguh menarik, ketika mural-mural juga dengan halus mengajarkan pentingnya pendidikan untuk mencegah korupsi sedari dini. Pelajaran antikorupsi jelas belum menjadi mata pelajaran di kurikulum kita.

Ada juga lukisan mural  yang memperlihatkan anak sekolah dasar yang sedang diminta berlatih menulis di papan tulis. Anak itu tidak sekedar menulis, “Ini Ibu Budi”. Anak itu menulis, “I promise I’ll learn not corruption”.

Meski abad ini sudah merupakan abad modern, akan tetapi masih banyak seniman-seniman jalanan yang menggelorakan semangat nasionalisme, Ada mural-mural dengan gambar-gambar perjuangan di sana sini.

Lukisan ini menyiratkan bahwa menyuarakan kritik, komentar dan saran tidak selalu identik dengan melakukan sesuatu yang ekstrim atau buruk. Dengan keindahan lukisan pun, kritik akan terlihat lebih “sopan” serta patut untuk dihargai.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source Informasi Lukisan Undonesia Djainudin Kenyut
Comments
Loading...