Lukisan “Tari Kebyar” (Basoeki Abdullah)

Tari Kebyar - Basuki Abdullah
0 3.715

Lukisan Tari Kebyar merupakan salah satu karya pelukis ternama Indonesia, Basuki Abdullah.

Tari Kebyar – Basuki Abdullah
  • Pelukis : R. Basoeki Abdullah
  • Judul : “Tari Kebyar”
  • Tahun : 1935 – 1993
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 56.5 cm x 41 cm

Deskripsi Lukisan Tari Kebyar

Lukisan ini merupakan lukisan realisme dengan gaya mooi indie. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Lukisan ini menggambarkan tentang seorang penari Kebyar lengkap dengan pakaian tariannya.

Tari Kebyar adalah sebuah tarian Bali yang dibuat oleh I Mario dan pertama kali ditampilkan pada 1925. Terinspirasi oleh pengembangan gamelan gong kebyar yang dipetik secara cepat, tarian tersebut dinamai kebyar duduk karena posisi duduk dan setengah duduk yang dilakukan oleh para penari.

Karya ini termasuk dalam kategori figur manusia, karya-karya yang termasuk di dalamnya adalah lukisan dengan model manusia sebagai objek. Kategori ini lebih mengutamakan figur manusia yang tidak mementingkan aspek ketokohan sang subjek atau figur yang digambar. Secara visual, manusia dalam lukisan kategori ini tentu saja lebih banyak mengekspos tubuh secara utuh dan tak dibebani oleh konsep karya seni pesanan dan biasanya digambar sendiri maupun lebih dari satu orang. Dalam kategori ini tidak dibatasi oleh persoalan kemiripan maupun ketokohan. Beberapa contoh di dalamnya termasuk figur-figur perempuan telanjang atau sosok-sosok yang digambar karena alasan-alasan tertentu seperti manusia dalam aktivitas budaya, aktivitas sehari-hari, anak-anak, ataupun karena kedekatan dengan konsep tentang humanism dan “keindahan manusia” versi Basoeki Abdullah

Makna Lukisan

Secara umum lukisan-lukisan Basoeki Abdullah diyakini berpijak pada tradisi melukis Romantisisme dan Naturalime. Artinya, apa yang tergambarkan dalam kanvas selalu terlihat memanjakan mata dan memperlihatkan kemampuan mencerap keindahan secara fisik, member hasrat untuk “cuci mata” (voyeuristic).

Gagasan-gagasannya tidak memperlihatkan sis-sisi terdalam tentang suatu ide. Tanda atau eksekusi visual tampak lebih beraroma pada permukaan kanvas, bukan keindahan makna. Dengan demikian dapat ditenggarai bahwa Basoeki lebih pada pelukis yang mengatasnamakan keindahan visual, keindahan indra mata.

Bisa jadi semua ini disebabkan oleh kesadaran bahwa lukisan adalah ‘cermin kepatuhan diri’. Lukisan adalah wadah tentang manusia yang selalu cenderung ingin lahir kedua kali dengan kualitas yang lebih tinggi, lebih indah dan lebih baik. Ia memang tidak basa-basi terhadap semua objeknya. Basoeki sadar betul mengapa banyak orang yang ingin digambarnya. Mereka ada yang beranggapan dengan lukisan (dari tangan Basoeki Abdullah) diri sang objek bagai pindah ke dunia surgawi. Basoeki sendiri tentu sadar tentang lukisan-lukisannya. Basoeki menganggap bahwa ini lukisan, bukan potret.

Singkatnya, posisi lukisan dalam pikiran Basoeki adalah lebih tinggi (dibanding foto atau dunia realitas misalnya), serta memberi peluang munculnya dimensi non-real yang jauh dari realitas itu sendiri.

Dengan kata lain, keindahan lukisan-lukisan Basoeki adalah keindahan salon, keindahan yang direkayasa oleh pikiran dan imajinasi pelukis. Dalam konteks lain, lukisan Mooi Indië telah jauh dari akar yang sebelumnya menumbuhkan yaitu tradisi mendokumentasikan alam.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebyar_duduk

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/img/artworks/big/1352700787.jpg https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mba/2017/07/05/mengenal-karya-karya-basoeki-abdullah/
Comments
Loading...