Lukisan “Tayuban” Karya Djoko Pekik #2

Tayuban - Djoko Pekik
0 5.295

Lukisan “Tayuban” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Djoko Pekik.

Tayuban – Djoko Pekik
  • Pelukis : Djoko Pekik
  • Judul : “Tayuban”
  • Tahun : 1991
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 100 cm x 140 cm

Deskripsi Lukisan “Tayuban”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionisme, realisme. Dengan teknik melukis menggunakan media cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan tentang Tayuban.

Konon Tari Gambyong tercipta berdasarkan nama seorang penari jalanan (tledhek) yang bernama si Gambyong yang hidup pada zaman Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta (1788-1820). Sosok penari ini dikenal sebagai seorang yang cantik jelita dan memiliki tarian yang cukup indah. Tak heran, dia terkenal di seantero Surakarta dan terciptalah nama Tari Gambyong.

Tarian ini merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Ciri khas pertunjukan Tari Gambyong, sebelum dimulai selalu dibuka dengan gendhingPangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang. Sebab, kendang itu biasa disebut otot tarian dan pemandu gendhing. (Wikipedia)

Gaya pelukisan Djoko Pekik adalah realis-ekspresif dan dibumbui nilai-nilai kerakyatan. Semasa aktif di Sanggar Bumi Tarung, lukisan yang dihasilkan olehnya merupakan karya yang terinspirasi setelah melakukan Aksi Turun Ke Bawah (Turba) ke kawasan-kawasan miskin dan terhisap. Djoko Pekik merupakan seniman Bumi Tarung yang ditangkap polisi pada 8 November 1965 karena dianggap berhubungan dengan LEKRA.

Karya lukisnya yang terkenal adalah “Berburu Celeng”, yang menggambarkan keadaan para pemimpin Indonesia pada masa Orde Baru.

Lukisan Djoko Pekik merupakan bentuk dari teriakannya terhadap kungkungan orde baru dan bentuk protes ia terhadap kondisi sosial. Selama hidupnya Djoko Pekik menghasilkan kurang lebih 300 karya.

Setelah diteliti oleh Astari, banyak yang membaca karya-karya Djoko Pekik baik dari dalam ataupun luar negeri. Keikutsertaan ia pada pameran di Amerika pada 1989 membuat ia terkenal luas dengan kekontroversian dia sebagai tahanan politik orde baru.

Kontoversial ini membawa Djoko Pekik terkenal di Indonesia, karena banyak majalah dan koran yang meliput pameran ia di Amerika. Hal ini berimbas pada banyaknya kolektor yang mulai memburu karya-karyanya. Karena bagi para kolektor lukisan Djoko Pekik mampu melukiskan umpatan serapah kedalam kanvas yang memang bentuk curahan hati Pekik atas kenangan masa lalu.

Lukisan Pekik dikenal memiliki keunikan disetiap karyanya, para kolektor berpendapat ia selalu berbeda dalam setiap lukisanya. Hal ini membuat Pekik kurang suka karena banyak yang berburu lukisannya dan ingin melihat karyanya, hingga lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa ia memakai teknik yang sama dalam tiap lukisanya.

Tema Lukisan

Karya Djoko memiliki keunikan karena mengangkat tema yang berbeda dari kebanyakan pelukis dari masanya. Tema yang sering diangkat Djoko tersebut adalah yang berkaitan dengan kesulitan hidup.

Teknik Lukisan

Djoko dinilai terinspirasi oleh teknik-teknik dari Affandi, kemudian mengembangkannya menjadi tekniknya sendiri. Djoko mencairkan cat minyak secukupnya, dan mengusapkannya ke kanvas dengan usapan yang lebar dan basah. Teknik “basah” yang digunakan Djoko tersebut menuntutnya untuk bekerja dengan cepat. Hal itu karena jika sudah mengering, maka Djoko tidak dapat mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Oleh karena itu, seringkali Djoko menyelesaikan lukisannya hanya dalam sekali duduk. Dalam perkembangannya, selain mengangkat tema sosial, karya Djoko juga seringkali mengangkat tema tragedi politik.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org/ http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/djoko-pekik https://lelang-lukisanmaestro.blogspot.com/2015/07/lukisan-dan-biografi-djoko-pekik.html?m=1
Comments
Loading...