Lukisan “Teringat Akan Bentuk #1” (I Made Mahendra Mangku)

Teringat Akan Bentuk #1 - I Made Mahendra Mangku
0 3.620

Lukisan “Teringat Akan Bentuk #1” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, I Made Mahendra Mangku.

Teringat Akan Bentuk #1 – I Made Mahendra Mangku
  • Pelukis : I Made Mahendra Mangku
  • Judul : “Teringat Akan Bentuk #1”
  • Tahun : 2013
  • Media : Acrylic, Charcoal On Canvas
  • Ukuran : 100 cm x 100 cm

Deskripsi Lukisan “Teringat Akan Bentuk #1”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak. Dengan teknik melukis menggunakan cat akrilik dan arang di atas kanvas.

Karakteristik Karya

Sebagai orang Bali dan dibesarkan dalam tradisi Bali, Mangku seperti ‘keluar’ dari tradisinya, dengan menyapukan karya-karya abstrak pada kanvas.

Yang menarik, Mangku juga menyajikan kisah abstrak menggunakan cat air pada kertas. Semua yang digoreskan berupa gambar-gambar, meski terlihat bentuknya, tetapi kesan abstraknya melekat sangat kuat.

Selain itu, karya Lukisan I Made Mahendra Mangku mempunyai daya tarik semi abstrak yang terletak pada penggunaan warna biru lembut yang menghadirkan suasana ketidaknyataan meditasi. Warna pilihannya adalah ungu muda dan ungu kebiruan. Warna merah, kuning, biru juga melekat pada kanvasnya yang terlihat jelas. Walaupun latar belakang yang menempel pada kanvas lukisan biasanya berwarna biru pucat, sehingga terlihat kabur. Tetapi garis-garis yang menghiasinya memberi wujud dan menandakan bahwa lukisan tersebut telah selesai dibuat.

Dari satu naungan ke naungan yang lain, dia perlahan mengubah warna menjadi kebalikannya, menciptakan merek simbolismenya sendiri. Suasana spiritual yang kaya akan nuansa warna dan kepekaan melingkupi sebagian besar lukisannya yang lain, yang memiliki garis batas antara abstraksi dan figurasi simbolik.

Menurut Apriadi Ujiarso, yang menulis pengantar pada katalog pameran I Made Mahendra Mangku yang bertajuk ‘Memoria Personal’ di Sangkring Art Project, Nitiprayan RT1/20 No 88, Ngestiharja, Kasihan Bantul, Yogyakarta Tahun 2013, ia melihat bahwa Mangku semakin sadar akan kekurangannya dalam hal bentuk dan garis, namun sebaliknya ia malah semakin paham akan potensinya dalam hal warna. Maka, kesadaran itu mengarahkan Mangku mencari acuan bahasa visual non-Bali yang cocok dengan karakternya. Pada level nasional, Mangku mengacu pada karya-karya Zaini, pelukis asal Pariaman. Sedang pada tingkat global, Mangku utamanya memilih acuan mula-mula kepada Robert Rauschenberg (AS) hingga pada Antoni Toples (Spanyol).

Karya I Made Mahendra Mangku Menggunakan Cat Air

Beberapa karya Mangku yang menggunakan cat air diberi judul ‘Iron 1‘, ‘Iron 2’, dan ‘Iron 3’. Masing-masing judul menggunakan kata ‘Iron’, dan untuk membedakannya ia membubuhkan angka. Pada ‘Iron 1’, warna hitam dan biru bisa ditemukan. Berbeda dengan ‘Iron 2”, warna merah menempel di antara warna hitam, dan pada ‘Iron 3”, warna kuning membentuk seperti awan.

Melalui karya seni yang menempuh jalur abstrak, Mangku seperti hendak memberi bentuk yang bisa dikenali melalui warna. Karena, stereotype karya abstrak adalah sebuah karya yang tidak memiliki bentuk. Padahal, pada karya seni lukis abstrak ataupun yang lain, ada hal yang tak bisa dilupakan, yaitu garis yang menjadikan abstrak tersebut terlihat bentuknya. 

Setiap aliran lukisan memiliki estetika yang berbeda, sehingga bentuk yang dibuat dari garis-garis pada abstrak akan berbeda hasilnya dari garis-garis yang membentuk seni lukis jalur realis, naturalis dan lainnya.

Hal yang menarik dari karya I Made Mahendra Mangku tersebut adalah warna-warna yang digoreskan pada karyanya memiliki kelembutan, sehingga memperhatikan karya-karya Mangku kita serasa memasuki satu ruang yang teduh. Melalui karya-karyanya, Mangku seolah sedang merenung. (Sumber : http://arsip.tembi.net)

Catatan Kuratorial oleh Arif Bagus Prasetyo
dalam Pameran Tunggal I Made Mahendra Mangku yang Bertajuk “Interior Journey” (Tonyraka Art Gallery, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali Tahun 2014)

Tentang Perjalanan Batin

Karya lukis abstrak Mangku bukanlah hasil dari suatu rencana atau rancangan. Alih-alih, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mangku sendiri, lukisannya merupakan hasil dari suatu perjalanan batin yang dilakukan selama proses melukis.

Arif Bagus Prasetyo mengungkapkan, karya Mangku adalah hasil dari suatu perjalanan batin, yang dialami Mangku selama melukis atau proses berkarya. Dalam tulisan pengantarnya untuk pameran “Interior Journey“, Arif menyebutkan, titik tujuan itu bukan akhir perjalanan, melainkan hanya terminal pemberhentian sementara sebelum Mangku memulai perjalanan baru untuk karya berikutnya.

Arif menerjemahkan Interior Journey sebagai perjalanan batin, mulai melukis dengan menghadapi kertas kosong, tidak tahu mau kemana. Tujuan baru diketahui setelah karya selesai, itulah inti kreativitas.

Perenungan tersebut tersirat dalam sapuan warna dan goresan garis pada karya Mangku. Misalnya dalam karya yang berjudul ”Berakhir Pada Sebuah Bentuk”, yang terdiri dari sembilan panel lukisan. Pada salah satu panel lukisan, Mangku menyapukan warna biru mendominasi kanvas. Tetapi di panel lain, warna hijau, yang mendominasi pada kanvas yang berukuran sama. Goresan warna hitam atau merah memberikan dimensi dan getaran emosi. Perenungan dapat berlangsung panjang. Perjalanan batin juga mendatangkan hal baru dan tidak terpikirkan sebelumnya. Dalam lukisannya yang berjudul ”Memorial” pada lembaran kertas beras (rice paper) sepanjang 30 meter. Perenungan demi perenungan muncul setiap kali tuas pada kotak, yang menjadi tempat lukisan, itu diputar.

Mangku adalah sosok perupa yang rajin berkarya, mengeksplorasi beragam media dengan cat air, cat akrilik, atau bahan lain. Meskipun ada di jalur abstrak, karya Mangku justru menampilkan kesederhanaan, simpel dan minimalis. Warna-warna sejuk banyak dipilih Mangku untuk karya lukisnya. Arif merasa Mangku ingin mencari esensi, perenungan ke dalam yang dilakukan Mangku bisa menyiratkan tentang keadaan politik yang terjadi saat itu.

Garis dan Warna Lukisan Tanpa Tujuan

Mangku tidak melukiskan perjalanan batin: proses melukis itu sendiri adalah perjalanan batin. Dari satu titik keberangkatan di atas kanvas atau kertas, ia memulai perjalanan melanglang buana garis dan warna, tanpa tujuan tertentu, menuju “entah’. Titik tujuan hanya ada setelah ia memutuskan untuk berhenti: ketika proses melukis telah dianggapnya selesai. Namun ia tahu titik tujuan itu bukanlah akhir perjalanan, melainkan hanya terminal perhentian sementara. Maka ia pun melukis lagi, memulai perjalanan batin baru dalam proses penciptaan karya berikutnya.

Dilahirkan melalui metode lukis yang dilandasi prinsip “mengembara” atau “berkelana”, citra dalam karya Mangku bukanlah perwujudan dari suatu desain yang dirancang atau dibayangkan sebelumnya. Mangku melukis tanpa bertujuan menyalin kenyataan kasat mata, tanpa mengacu pada sumber di luar bidang kanvas atau kertas. Citra dalam karyanya terus tumbuh, terus “menjadi”, selama proses melukis. Ketimbang untuk menirukan sesuatu yang dilihat maupun terlihat, garis dan warna lebih banyak digunakan untuk memperlihatkan daya-daya yang tak kasat mata. Garis dan warna tidak berfungsi menggambarkan hal-ihwal, melainkan mewadahi energi dinamis pergerakan dan perubahannya sendiri.

Filsuf Henri Bergson

Dengan metode “melukis sebagai perjalanan batin”, Mangku menjelajahi kaidah komposisi untuk seni lukis yang berfungsi memproduksi bentuk, bukan mereproduksi bentuk atau apa yang direpresentasikan oleh lukisan. Fungsi seni lukis sebagai produsen bentuk ini menggemakan apa yang disebut oleh filsuf Henri Bergson (1911) sebagai “evolusi kreatif”: terwujudnya “ketiadaan yang tak teramalkan yang merupakan segala-galanya dalam karya seni”. Karya Mangku menampilkan “evolusi kreatif” ketika bentuk tercipta sendiri dari pergerakan rangsang internal selama proses melukis, manakala bentuk tumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu. Lukisannya memeragakan proses kelahiran dan kebangkitan sesuatu yang baru dan tak terpikirkan sebelumnya.

Citra Lukisan I Made Mahendra Mangku

Memang, dalam lukisan Mangku kadang-kadang terlihat citra yang terkesan mewakili dunia nyata. Kesan pemandangan alam, misalnya, muncul dari komposisi formal garis dan warna dalam sejumlah lukisan. Namun “kesan realitas” semacam itu sesungguhnya bekerja pada tataran sensasi, tidak pada tataran representasi. Ketimbang mengacu pada struktur dunia luar, komposisi lukisan tetap lebih merujuk pada pola dan irama dunia dalamnya sendiri.

Ada kalanya Mangku melukis dengan diilhami obyek tertentu, misalnya pemandangan alam, dan penampakan obyek tersebut dalam lukisan dapat dikenali dengan mudah. Namun dalam kasus seperti itu pun, lukisan mengisyaratkan bahwa Mangku kurang tertarik pada obyek itu sendiri, tapi lebih berminat pada proses batin yang dialami ketika bertemu dengan obyek. Jika dalam lukisan terlihat citra yang mirip pohon, misalnya, hal itu terjadi bukan karena Mangku menggambarkan pohon, melainkan karena ia mengungkapkan pengalaman batinnya tentang pohon.

Citra dalam lukisan Mangku muncul dari perjalanan menyusuri lanskap batin. Pergerakan dan perubahan di sepanjang perjalanan menghasilkan figurasi abstrak yang menantang pemikiran umum yang terbiasa mengganggap citra sebagai bentuk yang tetap, solid dan dapat diukur dalam ruang. Sebagaimana yang tercermin pada ruang yang tampak begitu dinamis dalam lukisannya, tempat garis mengalir spontan dan warna melayang bebas, Mangku mengganti logika zat padat dengan logika cairan dan gas. Lukisannya menyarankan sudut pandang baru terhadap hakikat citra yang mendasari pemahaman tentang dunia.

Mangku menghadirkan kanvas dan kertas yang bergetar oleh tarian garis dan warna. Lukisannya membongkar tatanan representasi dan menyodorkan ruang-ruang halusinatoris baru. Dengan “melukis sebagai perjalanan batin”, visi kreatif Mangku menyingkapkan suatu dunia cahaya dan warna yang biasanya tak kasat mata, suatu kedalaman yang tersembunyi di balik penampakan duniawi sehari-hari.

Seakan melampaui keterbatasan fisik, Mangku adalah salah seorang pelancong sejati yang dibicarakan Baudelaire dalam puisinya. Ia bagian dari, mengutip bait selanjutnya puisi itu, “mereka yang mimpinya melayang-layang di langit, tak berbentuk seperti awan, licin seperti lidah api. Sedemikian anehnya sampai-sampai bahasa pun tak bisa memberinya nama”.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://gallery.komaneka.com/ http://gallery.komaneka.com/artis.php?ArtistID=20 http://suluhbali.co/melukis-adalah-perjalanan-batin-mangku-mahendra-2/
Comments
Loading...