Lukisan “The Black Stallion” (Made Sumadiyasa)

The Black Stallion - Made Sumadiyasa
0 54.698

Lukisan “The Black Stallion” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Made Sumadiyasa.

The Black Stallion – Made Sumadiyasa
  • Pelukis : Made Sumadiyasa
  • Judul : “The Black Stallion”
  • Tahun : –
  • Media : Oil On Canvas
  • Ukuran : 145 cm x 188 cm

Deskripsi Lukisan “The Black Stallion”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionismeabstrak. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.Dalam lukisan ini Made Sumadiyasa menggambarkan seekor kuda jantan berwarna hitam (The black stallion). 

Pada tahun 1946, tak lama setelah berakhirnya Perang Dunia II, Alec Ramsey dan ayahnya melakukan perjalanan kapal laut di lepas pantai utara Afrika. Dalam perjalanannya kembali ke Inggris, di dek kapal, Alec melihat seekor kuda Arab berwarna hitam yang gagah, sedang ditarik dengan kasar oleh empat orang pria brutal. 

Diam-diam Alec mendatangi kuda yang membawa gula batu di punggungnya itu. Malam itu, kapal mereka dihantam badai. Kapal yang mereka tumpangi disambar petir. Alec berusaha untuk membebaskan kuda hitam itu tetapi malah terlempar dari kapal. Kapal tenggelam. 

Hanya Alec dan kuda itu yang selamat. Terdampar di sebuah pulau terpencil, Alec dan kuda hitam tersebut membentuk ikatan persahabatan yang kuat. Sampai pertolongan datang menyelamatkan, mereka kembali ke Amerika Serikat di mana Alec bertemu dengan seorang pelatih kuda bernama Henry Dailey. Henry mengajarkan Alec bagaimana menunggangi kuda. 

Alec menamai kudanya The Black Stallion. Namun, tanpa dokumentasi silsilah yang jelas mengenai asal-usul The Black Stallion, Alec tidak bisa mendaftarkan kudanya ke kejuaraan ternama. 

Akhirnya The Black Stallion disertakan ke kejuaraan yang diikuti oleh kuda-kuda yang tidak memiliki silsilah jelas. Pertandingannya diawali dengan melawan dua kuda pacuan tercepat dalam kejuaraan tersebut, Cyclone dan Sun Raider. 

Sejak itulah legenda The Black Stallion dimulai. Kemudian dari tahun ke tahun, istilah The Black Stallion atau kuda hitam digunakan orang-orang untuk menyebut mereka yang tidak diunggulkan tetapi justru menjadi juara, mereka yang tidak memiliki catatan sebagai juara tetapi justru membuktikan kepada dunia bahwa merekalah sang juara. (Sumber: https://www.kompasiana.com)

Karakteristik Karya

Karya Lukisan Made Sumadiyasa banyak melukiskan aliran ekspresionis abstrak yang menunjukkan aspek universal budaya dan filsafat Bali. Ia berfokus pada gerakan dan warna untuk membawa esensi spiritual subjeknya. Sumadiyasa lebih menggali impresi-impresi alam ke dalam kanvas.

Kesadaran Sumadiyasa akan ruang dan komposisi sangat lekat dari tradisi atau pra-modern saat ini. Kesadaran ini terasa kuat dalam karya-karyanya yang dilukis secara abstrak. Ia tumbuh dari ranah akademis dimana ia diperkenalkan dengan kaidah-kaidah formal dan estetika seni rupa modern. Seperti halnya dalam perkembangan seni modern Indonesia. Prinsip-prinsip modernisme tersebut tidak dianut sebagai ideologi, apalagi ideologi seni rupa yang berujung pada formalisme seperti di Barat. Akan tetapi ia tidak secara penuh menyerap prinsip avant garde, sehingga menjadikan karya-karya abtraksi ini justru sarat dengan muatan-muatan kultural dan spiritual. Presentasi karya-karya Sumadiyasa menghadirkan nilai-nilai simbolik dan juga metafora.

Bahasa visualnya melampaui bentuk dan ilusi, menciptakan tingkat emosi yang intens. Dari kebesaran alam semesta hingga teknologi pada lingkungan dan masyarakat, Sumadiyasa terus menemukan sumber inspirasi yang tidak terbatas untuk karyanya.

Siratan Makna Lukisan Karya Made Sumadiyasa

Karya Sumadiyasa sebagian besar bertemakan kritik sosial terutama terhadap perilaku elite politik yang hanya berorientasi pada kekuasaan dan melupakan hati nurani. Melalui karyanya, Sumadiyasa mengajak masyarakat melakukan otokritik agar tidak terjebak dalam pertarungan para elite politik yang sudah tidak peduli pada rakyat.

Di tangan Sumadiyasa berbagai persoalan bangsa Indonesia digambarkan dalam berbagai ekspresi, seperti salah satu lukisannya yang berjudul Kursi Tulang. Karya ini bertema pertarungan perebutan kekuasaan di antara elite politik.

Teknik Cipratan

Lukisan Made Sumadiyasa lebih menekankan pada teknik cipratan. Lukisannya banyak dibuat dengan cara mencipratkan cat, yang biasanya juga tidak terlalu kental secara langsung ke bidang lukisan. Pada teknik ini tidak terdapat jejak sapuan kuas. Sebagaimana lelehan, teknik cipratan juga menghasilkan bentuk yang spontan. Sumadiyasa kadang menonjolkan hasil cipratan, tetapi kadang teknik tersebut sekedar dipakai untuk latar belakang.

Made Sumadiyasa adalah seniman Indonesia pertama yang diundang untuk berpartisipasi dalam pameran prestisius Seni Rupa Internasional ART ASIA yang diselenggarakan di Hong Kong Convention Centre, Hong Kong tahun 1995.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://www.agungraigallery.com http://www.agungraigallery.com/bali-painting/the-black-stallion/ http://koranjogja.blogspot.co.id/2010/03/return-to-abstraction.html
Comments
Loading...