Lukisan “The Last Sarimin” (Heri Dono)

The Last Sarimin - Heri Dono
0 1.389

Lukisan “The Last Sarimin” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Heri Dono.

The Last Sarimin – Heri Dono
  • Judul : “The Last Sarimin”
  • Tahun : 2008
  • Media : Mixed Media on Canvas
  • Ukuran : 150 cm x 200 cm

Deskripsi Lukisan “The Last Sarimin”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya kontemporer, animisme. Dengan teknik melukis menggunakan media campuran di atas kanvas. Terlepas dari benar atau tidaknya, dalam lukisan ini pelukis menggambarkan sosok terakhir Sarimin.

POTRET BURAM WAJAH HUKUM KITA

Selama lima malam berturut-turut (14-18 November 2007), Butet Kartaredjasa, berhasil memukau khalayak penonton lewat pertunjukan drama monolog berjudul Sarimin. Atas permintaan banyak penggemarnya, akhirnya panitia Art Summit memenuhi permintaan untuk memperpanjang semalam lagi. Pertunjukan yang digelar di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta ini merupakan salah satu mata acara dari rangkaian besar hajatan Art Summit Indonesia V-2007.

Butet yang lahir pada 21 November 1961 dan telanjur lekat dengan predikat tukang banyol itu, kembali melemparkan kritik-kritik sosial lewat lakon tukang topeng monyet ini. Kali ini temanya tentang kebobrokan hukum di negeri bernama Indonesia.

Gagasan awalnya datang dari seorang ahli dan praktisi hukum, Pradjoto, yang terobsesi mengangkat tema hukum ke atas panggung dalam kemasan monolog. Bak gayung bersambut, tawaran itu akhirnya diterima Agus Noor dan Butet, walaupun semula mereka sempat gemetar juga. Segera mereka menyiapkan naskah dan segala sesuatunya. Maka, lantas terciptalah lakon komedi Sarimin, seorang lelaki berusia 54 tahun yang berprofesi sebagai tukang topeng monyet keliling. Semula Agus Noor memberi nama tokohnya Saridin, namun agar lebih ”identik” dengan profesi topeng monyet, diganti Sarimin.

Suatu hari, secara tak sengaja Sarimin menemukan selembar Kartu Tanda Penduduk (KTP). Lantaran buta huruf, Sarimin tidak tahu siapa pemilik KTP tersebut. Dengan lugu dan berbekal niat baik, Sarimin menyerahkan KTP tersebut ke kantor polisi. Maksudnya agar kelak polisi saja yang mengantarkan ke pemiliknya.

Namun, sial sekali Sarimin. Di kantor polisi itu alih-alih mendapat pujian karena telah berbuat baik, ia malah mendapat masalah. Petugas polisi yang menerimanya justru mempersulit urusan dengan berusaha memeras Sarimin dan mengancam akan mengurungnya di penjara, sebab ternyata KTP itu kepunyaan Hakim Agung. Sarimin dituduh sebagai pencuri karena tidak segera mengembalikannya.

Sarimin yang malang tak bisa membela diri. Akibatnya secara semena-mena ia dijebloskan ke sel tahanan. Pengacara yang ditunjuk untuk membelanya malah sibuk mencari popularitas sendiri. Sarimin hanya bisa menangis dan meratapi nasib. Sungguh, hukum dan keadilan bukan milik orang kecil seperti dirinya.

Kesimpulan

Kisah Sarimin ini mencerminkan wajah peradilan dan hukum di negeri kita yang suram dan carut-marut; penuh praktik suap-menyuap, nepotisme, korupsi, dan kolusi. Mulai dari petugas polisi di tingkat bawah hingga para hakim, jaksa, dan pengacara di jajaran atas. Jual beli perkara sudah menjadi rahasia umum yang lumrah. Keadilan untuk semua hanya berhenti pada jargon dan slogan kosong belaka.

Tokoh Sarimin merupakan perwakilan ‘orang kecil’ yang jujur kendati tak pernah mengecap bangku sekolah dan buta hukum sama sekali. Kejujuran sudah tak laku lagi dijual di sini. Segalanya mesti pakai uang, uang, dan uang. Jika punya masalah dengan hukum, lebih baik selesaikan secara kekeluargaan, sebab jika dibawa ke polisi atau meja hijau, urusannya akan bertambah panjang dan rumit. Mengadu kehilangan ayam, bisa-bisa kita malah jadi kehilangan kambing. (perca)

Karakteristik Karya

Lukisan Heri Dono adalah hasil cipta, karsa, dan rasa, yang mempunyai nilai estetik, artistik, serta mempunyai tujuan dalam penciptaannya. Sebagai karya estetik, karya seni tersebut mempunyai nilai universal, artinya bisa dinikmati oleh orang lain, boleh diinterpretasi sesuai dengan kapasitas estetis pengamatnya.

Karya-karya Heri Dono baik berupa lukisan, instalasi, maupun seni pertunjukan senantiasa mengandung kritik sosial. Mencakup beragam persoalan dalam spektrum yang sangat luas. Mulai dari masalah sosial, politik, kebudayaan, lingkungan, dan perkembangan teknologi. Masalah-masalah itu ditampilkan secara karikatural, satir, dan parodikal.

Tema Wayang Karya Heri Dono

Heri Dono dikenal dengan karya-karyanya yang berbasis seni tradisi, khususnya seni wayang kulit yang sangat populer dalam masyarakat Jawa. Sebagai seorang perupa, Heri Dono dalam mengekspresikan ide-idenya banyak mengeksplorasi rupa atau bentuk dan karakter dari tokoh-tokoh dunia pewayangan.

Khususnya, Heri lebih suka menggambarkan sosok panakawan yang dalam jagat pewayangan. Tokoh tersebut mewakili rakyat jelata yang hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, senantiasa mengikuti pihak yang benar, dan kritis terhadap perilaku penguasa.

Sepertinya Heri ingin mengatakan, bahwa peran seorang seniman tak ubahnya peran panakawan dalam dunia pewayangan. Yakni menghibur sekaligus menawarkan kritik terhadap lingkungan sekitarnya dan kekuasaan.

Konsistensi eksplorasi terhadap dunia wayang dalam karyanya mengantarkan Heri Dono mendapat penghargaan Unesco Prize untuk kategori Education Art pada tahun 2000.

Unsur Humor dalam Karya Heri Dono

Unsur humor merupakan ciri khas karya-karya Heri Dono. Dalam wawancara dengan seorang wartawan, Larry Polansky, usai menggelar karya instalasinya di kota kecil Harima, Jepang, Heri menjelaskan konsep humor dalam setiap karyanya. Menurutnya, seperti dalam seni teater tradisional Jawa ‘Ketoprak’, atau pentas lawak Srimulat, dan wayang, kehadiran pembantu yang lucu seperti panakawan sangat diperlukan.

Keberadaan mereka penting untuk menyampaikan kritik dengan cara yang lucu terhadap kelompok masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Tema Kartun

Dalam banyak lukisannya, Heri Dono menampilkan deformasi liar dan fantasi bebas yang memunculkan karakter cerita wayang.

Pengetahuan mendalam tentang film kartun anak-anak, film animasi, dan komik, membuat karyanya selalu dipenuhi dengan karakter dari cerita fantastis yang tidak masuk akal.

The Secret Code of Heri Dono

Bagi seniman/perupa, studio adalah ruang pribadi yang menjadi laboratorium seni yang menunjukkan proses berkarya, pengembangan pengetahuan baru dan dokumentasi atas miniatur sejarah. Ketiadaan museum seni rupa di Indonesia menjadi kekhawatiran Dono. Sehingga memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan program pameran “The Secret Code of Heri Dono“.

Sebuah program yang mencoba memaparkan kode rahasia Heri Dono dalam berproses karya sejak dari awal melalui penggalian arsip dokumen dan foto mulai tahun 1980-an. Sketsa dan catatan pribadi, sumber inspirasi dari buku-buku yang dibaca, juga pengaruh dari pemikiran seniman lain yang hadir secara nyata di ruang kerja pribadinya.

Museum mengacu pada tempat di mana hal-hal dan nilai-nilai yang diawetkan, dipelajari, dan dikomunikasikan yang bisa dipakai sebagai tanda untuk menafsirkan fakta yang tidak hadir pada museum.

Dengan demikian, museum bisa dipahami sebagai “tempat memori”. Gagasan inilah yang digunakan pijakan oleh Heri Dono sebagai pemahaman awal fungsi museum dalam konteks ruang, dalam membekukan pemikiran dan nilai.

Kutipan Kurator oleh Mikke Susanto

Kurator Mikke Susanto membagi karya-karya Heri dalam empat arena, yakni arena kehidupan di sekitar dirinya sendiri sebagai seniman, situs arkeologis baru, isu politik, dan catatan tentang alam.

Menurut Mikke, isu politik merupakan tema yang sejak lama digarap Heri Dono. Misalnya, ia mengangkat kembali tema lukisan legendaris “The Sumission of Diponegoro karya Nicolaas Pieneman. Puluhan tahun lalu, pelukis Raden Saleh telah membuat versi lain dari karya itu dengan judul “Penangkapan Pangeran Diponegoro“.

Dengan mengacu pada dua karya tersebut, Heri Dono membuat lukisan berjudul “Salah Tangkap Diponegoro (2007), dan kemudian “The Error of Pieneman’s Perspective“. Dalam dua karya itu, ia menampilkan figur-figur politisi era sekarang, mulai dari Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur hingga Antasari Azhar.

Majalah Artlink di Australia mencatatnya sebagai salah satu perupa yang paling sering diundang ke biennale internasional. Ia bahkan disebut sebagai satu dari 100 perupa avant-garde dunia saat ini.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/heri-dono-1/page:7 http://youpainting.blogspot.com/2011/05/heri-dono-mengangkat-tradisi-dalam-seni.html?m=1http://youpainting.blogspot.com/2011/05/heri-dono-mengangkat-tradisi-dalam-seni.html?m=1
Comments
Loading...