Lukisan “Think Less Feel More” (Arya Sukapura Putra)

Think Less Feel More - Arya Sukapura Putra
0 3.694

Lukisan Think Less Feel More merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Arya Sukapura Putra.

Think Less Feel More – Arya Sukapura Putra
  • Pelukis : Arya Sukapura Putra
  • Judul : “Think Less Feel More”
  • Tahun : –
  • Media : Acrylic and Spray Paint On Canvas
  • Ukuran : 66.9 H x 55.1 W x 1.6 in

Deskripsi Lukisan Think Less Feel More

Lukisan ini merupakan lukisan politik, fine art, street art,  modern, pop art. Dengan bahan akrilik dan bahan lain di atas kanvas.

Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan imajinasinya tentang manusia yang selalu berpikir merasa kurang.

Makna Lukisan

Bila kita rinci lebih dalam lagi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi mengapa seseorang terus saja merasa kurang. Kita akan temukan bahwa rasa ini tidak berawal dari luar diri manusia itu sendiri. Sebab jika kita bandingkan dengan orang lain, masih cukup banyak orang yang merasa sudah pas. Pada akhirnya, kita akan mengetahui bahwa perasaan ini berawal dari dalam hati sanubari seseorang. Saat energi dalam pikiran telah sampai pada tahap berkekurangan dimana hal-hal negatif-buruk juga turut merasuk ke dalam pikiran sehingga membuat suasana hati menjadi kurang bagus/ merasa kurang enak.

Aktivitas manusia yang terlalu minim merupakan penyebab utama dari perasaan yang terus merasa kurang. Saat pikiran tidak mampu lagi mengolah informasi dengan lancar, otak mulai mandek, buntu sana-sini: keadaan ini adalah pertanda bahwa anda butuh ketenangan untuk kembali menciptakan suasana positif di dalam hati. Salah satu cara untuk mencapai ketenangan itu adalah dengan melakukan aktivitas yang biasa anda kerjakan, misalnya dengan senantiasa fokus kepada Tuhan. Begitupun dalam dunia politik.

Letih dan jengah adalah dua perasaan yang mendominasi ketika melihat dunia politik tanah air. Perebutan kekuasaan merupakan domain pasti dalam setiap momen politik. Partai politik sudah kian kabur tujuan ideologinya. Tak jelas arah dan orientasinya. Kegaduhan terjadi hampir di setiap lini, entah di tingkat internal maupun eksternal. Wajar jika kemudian fenomena ini menghasilkan banjir pesimis dan arus ketidakpercayaan masyarakat kepadanya.

Padahal keberadaan parpol, sangat diyakini bisa menjembatani kepentingan rakyat terhadap pemerintah, karena parpol adalah corong aspirasi rakyat. Kepentingan yang memang berangkat dari pijakan akar rumput. Sudah sepatutnya, parpol menjadi perantara ide yang diinginkan masyarakat agar kemudian bisa dirumuskan dalam bentuk kebijakan.

Agar pemerintah dapat menjalankan tugasnya dengan baik, melalui parpol rakyat diharapkan bisa menyumbangkan putra-putri terbaiknya. Namun kenyataannya, parpol penuh dengan unsur nepotisme dan politik uang. Siapa pun bisa menjadi duta parpol, tidak musti yang terbaik, asalkan dia punya harta berlimpah, semuanya bisa.

Berpolitik demi memajukan masyarakat agar memperoleh kesejahteraan, agaknya sudah mulai ditinggalkan. Tak ada lagi cerita politikus negarawan yang peduli rakyat, rela mengorbankan jiwa raga demi memajukan bangsa dan negara, yang ada hanyalah politikus rakus yang  berjuang atas nama golongan dan individu. Mengeluarkan modal agar meraup untung yang lebih besar. Padahal politik tidak hanya berbicara kekuasaan, apalagi sekedar prospek bisnis.

Kita bisa melihat janji-janji politisi kepada masyarakat, meluap begitu saja usai prosesi serah terima jabatan. Sungguh pergeseran nilai politik yang kian mengkhawatirkan. Bahkan ada kesan, sah-sah saja-jika politikus itu tidak menepati janjinya dulu, saat kampanye.

Padahal politik adalah gerak kehidupan. Proses agar selalu sadar untuk melakukan perbaikan. Sadar jika masih banyak masyarakat yang belum punya penghidupan, tak bekerja, bergelut dengan kebodohan dan sekelumit permasalahan lainnya. Inilah yang musti jadi pijakan dari setiap gerakan politik.

Jika para politikus selalu mengobral janji yang miskin realisasi, ucapan yang tidak selaras dengan perbuatan, sudah tak lagi mempunyai bahasa wibawa, apa yang akan terjadi pada bangsa kita ini. Bagaimana pun juga, indonesia hari ini masih terus berjuang melawan belenggu tipu-menipu para awak yang menungganginya. Perbuatan yang bersumber dari kepongahan para elit politik dengan janji selangit itu. Manusia memang tidak akan pernah puas, seperti tanki bensin yang selalu haus untuk diisi.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source Saatchiart.com https://www.saatchiart.com/art/Painting-Think-Less-Feel-More/93591/2372466/view http://www.hmicabangbogor.com/2015/04/potong-generasi-politikus-rakus.html?m=1
Comments
Loading...