Lukisan “Tien Soeharto” Karya Eddy Susanto

Tien Soeharto - Eddy Susanto
0 4.885

Lukisan “Tien Soeharto” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Eddy Susanto.

Tien Soeharto – Eddy Susanto
  • Pelukis : Eddy Susanto
  • Judul : “Tien Soeharto
  • Tahun : 2009
  • Media : Acrylic on Canvas
  • Ukuran : 200 cm x 200 cm

Deskripsi Lukisan “Tien Soeharto”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media cat akrilik di atas kanvas. Dalam karya-karyanya, Eddy menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dan kisah sukses, yang tertera dalam sejumlah artefak dalam bentuk manuskrip (memiliki ejaan, bentuk, gambar, pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda)  dan sejumlah benda lainnya. Karya-karyanya juga memancarkan watak historisnya dengan kuat, sekaligus mendorong kesadaran terhadap identitas. 

Ibu Bangsa Series

Istilah ibu bangsa mengacu pada konsep yang dicetuskan oleh para perempuan dari seluruh Indonesia yang hadir pada Kongres Perempuan Indonesia tahun 1935. Sebagai ibu bangsa, perempuan mempunyai peran penting dalam mendidik para penerus masa depan bangsa. 

Sebagai ibu bangsa yang mendidik anak-anak, sebagai penerus masa depan bangsa, yang memperbaiki mentalitas bangsa, yang menjaga moral keluarga dan masyarakat, yang menjaga alam untuk anak cucunya, yang menggerakkan ekonomi keluarga dan masyarakat.

Raden Ayu Siti Hartinah (lahir di Jaten, KaranganyarJawa Tengah23 Agustus 1923 – meninggal di Jakarta28 April 1996 pada umur 72 tahun) adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto. Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil Ibu Tien Soeharto merupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu. Tien menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Siti kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia tak lama setelah kematiannya.

Siti Hartinah juga berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Ada peninggalan dan gagasannya yang terwujud untuk bangsa, sebagai contoh Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, perpustakaan nasional, RSAB harapan kita dan lainnya

Perjalanan Karier

Eddy Susanto, seorang seniman Indonesia yang lahir di Jakarta pada tahun 1975. Ia  lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta pada tahun 1996 jurusan Design Grafis. Sejak 2007, ia telah menggelar 18 pameran tunggal dan berpartisipasi dalam 16 pameran bersama. Karya-karyanya ada dalam museum koleksi publik dan pribadi antara lain, Presiden Indonesia Museum di Bogor dan museum Eddy Hartanto di Jakarta.

Karakteristik Karya

Karya-karya Eddy Susanto menyodorkan berbagai pertemuan budaya (manuskrip); manuskrip “Arjunawiwaha” dipertemukan dengan karya klasik Albrecht Durer (1471-1528) “The Promade”, karya kidung “Asmarandana” dipertemukan dengan karya Lambert Hopfer “The Conversion of St. Paul”, kitab “Baratayudha” dipertemukan dengan karya Albrecht Durer “The Four Horsemen of the Apocalypse”. Karya Eddy Susanto memancarkan watak historisnya dengan kuat, sekaligus mendorong kesadaran terhadap identitas. 

Menurut kurator Suwarno Wisetrotomo, Eddy berhasil menemukan persilangan sekaligus relasi pengetahuan antara empat arah mata angin dengan kebudayaan Jawa sebagai titik pusatnya, segaris dengan kosmogoni  (cabang astrofisika yang mempelajari asal dan struktur alam semesta secara luas (berlawanan dengan penelitian asal benda langit secara khusus) agama Hindu “Kiblat Papat Limo Pancer”. Manuskrip-manuskrip Jawa dalam bentuk babad, kakawin, kidung, serat, atau suluk yang diposisikan sedemikian penting oleh masyarakat Jawa, jadi sumber pengetahuan dan panduan meniti kehidupan.

Eddy menunjukkan Indonesia punya sejarah panjang dan kisah sukses yang tertera dalam sejumlah artefak berbentuk manuskrip dan benda-benda lain. Pemahaman, pemaknaan, dan pembacaan yang belum banyak dilakukan, mengakibatkan sumber-sumber historis itu sebelumnya seperti mengalami pembekuan.

Eddy Susanto tak hanya membandingkan kebudayaan berdasarkan perbedaan lokasi saja (Barat dan Timur/Jawa), namun juga berdasarkan perbedaan dimensi waktu (masa lalu dan masa kini), pola produksi (saintifik/teknologi dan religius), karakter visual (teks dan pictorial), dan seterusnya. Eddy juga banyak menempatkan dua produk kebudayaan dari dimensi waktu yang berbeda, seperti yang bisa dilihat pada salah satu karya yang mengetengahkan ‘pun’ (permainan kemiripan kata) antara javascript (bahasa pemrograman komputer) dengan aksara Jawa (Javanese text).

Tema Lukisan

Karya seni Eddy menawarkan perspektif alternatif untuk memahami apa mungkin menyatukan wilayah Asia Tenggara, selain dari afiliasi politik dan ekonomi yang biasa kita kenal hari ini. Eddy juga menyuarakan kegelisahan dan mengkritisi tentang perkembangan zaman yang banyak di antaranya tidak sejalan dengan hati nurani yang berpedoman pada misi kemanusiaan.

Eddy mencoba menggali tentang masalah pluralisme. Menyimak kembali satu demi satu karya Eddy Susanto, dapat ditemukan bahwa tema besar yang dapat dirasakan hadir dalam karyanya adalah persoalan identitas, yang justru kian mengemuka saat pelbagai komponen kebudayaan saling silang bertransaksi dalam karya Eddy Susanto, dan menghasilkan simpulan-simpulan baru yang menarik untuk disimak dan disintesakan. Salah satunya adalah hadirnya harmonisasi antara identitas global dan identitas lokal

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://eddysu.com/ https://eddysu.com/karya/ibu-bangsa-series-2009/ http://galeri-nasional.or.id/newss/458-pameran_tunggal_eddy_susanto_javascript
Comments
Loading...