Warning: unlink(/tmp/fa1af991f54a0c3995e92ca7ef317fde-FpoT7w.tmp): No such file or directory in /home/infoprima/public_html/lukisanku.id/wp-admin/includes/class-wp-filesystem-ftpext.php on line 158

Lukisan “Tolak Operasi Militer di Aceh” Karya Aris Prabawa

Tolak Operasi Militer di Aceh - Aris Prabawa
0 2.631

Lukisan “Tolak Operasi Militer di Aceh” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Aris Prabawa.

Tolak Operasi Militer di Aceh – Aris Prabawa
  • Pelukis : Aris Prabawa
  • Judul : “Tolak Operasi Militer di Aceh”
  • Tahun : 2000
  • Media : Pen on Paper
  • Ukuran : 48 cm x 32 cm

Deskripsi Lukisan “Tolak Operasi Militer di Aceh”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya pop art, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media cat tinta di atas kertas. 

Dalam lukisan ini pelukis menggambarkan suassana penolakan operasi militer Indonesia di Aceh. Operasi militer Indonesia di Aceh (disebut juga Operasi Terpadu oleh pemerintah Indonesia) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimulai pada 19 Mei 2003 dan berlangsung kira-kira satu tahun. Operasi ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum dua minggu untuk menerima otonomi khusus untuk Aceh di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia. Setelah sebelumnya ada Operasi Seroja (1975). Pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dengan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap, atau menyerahkan diri. Operasi ini berakibat lumpuhnya sebagian besar militer GAM, dan bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menyebabkan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh. (Wikipedia)

Aris tertarik pada masalah sosial dan politik dalam konteks tempat. Proses pembuatan seninya melibatkan banyak penelitian di tempat di mana orang hidup dan bagaimana mereka memahami dan bertahan hidup di dunia di sekitar mereka.

Perjalanan Karier

Aris merupakan seniman Indonesia yang lahir di Solo, Jawa, Indonesia, 1974. Solo adalah rumah bagi istana Sultan dan kaya dengan tradisi, mitos, dan agama Islam setempat. Aris tumbuh di sebuah komunitas komunal yang erat dari keluarga dekat dan keluarga besar yang dibangun untuk saling berbagi dan membantu. Masyarakat tempat ia tinggal dikendalikan oleh kediktatoran militer yang menindas, keras, seksisme, dan tidak adil.

Pada tahun 1994, Aris pindah ke Yogyakarta, dan pada tahun 1995 ia memulai gelar Sarjana Seni Rupa jurusan pembuatan cetakan di Institut Seni Indonesia (ISI). Pada tahun 1998 ia terlibat dalam mendirikan kolektif seni Taring Padi (taring tanaman padi).

Kolektif ini dibentuk oleh seniman dan aktivis untuk mengeksplorasi dan mengkritik dunia tempat kita hidup. Mereka menggunakan seni sebagai alat untuk perubahan sosial dan sebagai cara untuk berbagi dan mengeksplorasi ide-ide politik, berkomunikasi dengan orang lain dan membangun cara hidup baru dan kreatif.

Karakteristik Karya

Seni bagi Aris, adalah cara mengekspresikan ide dan menanggapi apa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Inspirasi datang dari dalam komunitasnya, dari tempat ia tinggal, bekerja, belajar, dan bermain. Menciptakan seni adalah proses mengeksplorasi dan memperdalam pemahaman Aris tentang beragam cara orang berinteraksi dengan dunia. Interaksi ini terkadang brutal dan di waktu lain juga indah.

Aris juga terinspirasi oleh seniman politik Indonesia, gerakan Dada Jerman, muralis Meksiko, dan seniman grafis dari Eropa awal abad ke-20. Ia lebih jauh terinspirasi oleh filosofi antiauthoritarian, DIY (do-it-yourself), dan punk.

Sistem budaya, lingkungan, sosial, dan politik tempatnya tinggal memberikan jalan tanpa akhir untuk eksplorasi. Di Indonesia tempat ia dilahirkan, ia telah melihat seksisme, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, patriarki, korupsi, kemiskinan, dan perusakan lingkungan.

Aris juga melihat di Indonesia rasa solidaritas kekeluargaan dan komunitas sangat kuat, tradisi dan ritual budaya yang kuat, dan lansekap lingkungan yang subur. Di Australia,  ia melihat banyak aturan, pengangguran, individualisme yang egois, pusat penahanan, rasisme terhadap penduduk asli, kekerasan, alkoholisme, dan kerusakan lingkungan.

Di Australia, ia juga terinspirasi oleh tingkat penghormatan dan toleransi yang ditunjukkan terhadap keragaman latar belakang budaya, gagasan, filosofi politik dan agama, serta orientasi seksual yang hidup berdampingan di sini dalam harmoni yang relatif. 

Keyakinan pada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan juga telah menginspirasi dan di atas semua kebebasan untuk mengekspresikan ide secara terbuka telah sangat membebaskan.

Karya-karyanya telah dipamerkan di Indonesia, Malaysia, Thailand, AS, Jerman, Spanyol, Prancis, Belanda, dan Australia.

Teknik Lukisan

Aris menggunakan berbagai teknik yang berbeda dalam karya seninya termasuk cat minyak dan akrilik, pena ballpoint di atas kertas dan kanvas, pensil, arang dan pastel di atas kertas, kolase, stensil, etsa, potongan kayu, linocut, ukiran kayu, resin, dan skrap logam.

Dalam pekerjaannya, ia harap dapat berkontribusi pada pengembangan pemikiran kritis dan debat, ide-ide baru dan cara-cara baru untuk berhubungan dengan dunia dan satu sama lain.

Proses pembuatan seni memungkinkan Aris untuk mengeksplorasi dan memperdalam pemahamannya tentang berbagai budaya dan cara yang berbeda di mana orang bertahan dan menikmati hidup di dunia ini.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://archive.ivaa-online.org http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/aris-prabawa-1 https://arisprabawa.wordpress.com/
Comments
Loading...