Lukisan “Tupu and The King” Karya Iwan Effendi

Tupu and The King - Iwan Effendi
0 5.257

Lukisan “Tupu and The King” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Iwan Effendi.

Tupu and The King – Iwan Effendi
  • Pelukis : Iwan Effendi
  • Judul : “Tupu and The King”
  • Tahun : 2011
  • Media : Acrylic on Wood
  • Ukuran : 128 cm x 48 cm

Deskripsi Lukisan “Tupu and The King”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya surealisme, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media cat akrilik di atas kayu. Karakter imajinatif di tengah-tengah warna-warna cerah dari dunia antah berantah, menjadi bahasa visual Iwan Effendi dalam berkarya. Karena kesukaannya terhadap cerita perang, objek-objek dalam lukisannya banyak menggambarkan benda-benda yang identik ada di medan peperangan.

Latar Belakang

Iwan Effendi lahir pada 17 Desember 1979, di Sleman, Yogyakarta. Ia mendapat pendidikan di Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (2000-2002) dan Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (2002-2004). Ia kemudian mengikuti beberapa residensi, antara lain: “Asian Cultural Council” di New York, Amerika (2009-2010); “Y-Fest” di Esplanade, Singapura (2010); “Y-Fest” di Manila, Filipina (2011); “Manila Contemporary” di Filipina (2012); “AIR Koganecho” di Yokohama, Jepang (2012); dan “Light in Winter Festival” Melbourne, Australia (2014).

Konsep Lukisan

Iwan menghasilkan karya berupa performance-art dan lukisan bergaya surealistik dengan sosok manusia sebagai objek utama.

Watak karya-karya Iwan Effendi sangat mendekati apa yang disebut pop-surealisme, seperti juga pada awal sebutan yang diberikan kepada perintis gerakan low-brow di Amerika. Ade Tanesia pernah mencatat kesannya terhadap karya–karya Iwan. Seringkali kita menemukan tabrakan unsur-unsur visual dalam karya-karyanya, pesawat, tank, yang kadang-kadang tampak seperti cacat dalam bentuk hewan. Hal ini terkait erat dengan kesukaannya pada cerita perang, seperti epik Perang Dunia Kedua. Selama studi  di Departemen Seni Rupa Institut Pengajaran dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, ia mengungkapkan ide-idenya dalam berbagai gestur tubuh manusia. Ketika dia pindah ke Yogyakarta, melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia jurusan seni lukis, gerakan visualnya yang telah bergeser dari realis ke imajinatif. Kembali ke genre  seni jalanan yang dipelopori oleh para seniornya mempengaruhi metode seninya. Gaya seni jalanan yang khas, bersinggungan dengan ikon lucu, adalah artefak yang memainkan peran penting dalam pengembangan bahasa seninya.

Lukisan Dan Teater Boneka

Iwan kemudian bertemu Maria Tri Sulistyani, penulis buku anak-anak yang kemudian menjadi istri nya, ia pun mengembangkan visualisasi dari cerita anak-anak dari seluruh dunia. Tidak berhenti di situ, ia mengembangkan teater boneka Papermoon, yang sebelumnya diprakarsai oleh Maria. Bersama dengan istrinya, Iwan mulai mengeksplorasi media teater boneka. Untuk Iwan, perluasan idiom  ke dalam teater boneka adalah tantangan luar biasa yang tak berakhir. Menerima dan mengacu pada filosofi teater boneka membuat Iwan mengesampingkan egonya sebagai seorang seniman, dan menyerahkan diri ke dunia teater boneka. Namun ia berupaya tetap mengembangkan karya-karya pribadinya dengan punya kematangan lebih dalam memainkan tanda-tanda yang kadang muncul dengan ikon-ikon populer, fragmen-fragmen sureal, dengan memadukan unsur melukis realisme dengan karakter komik, dan dengan medium melukis dan drawing.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://www.galerisemarang.com/exdetails.php?ex=100 https://indoartnow.com/artists/iwan-effendi http://www.galerisemarang.com/exdetails.php?ex=100
Comments
Loading...