Lukisan “Untitled #4 (2008)” (Zusfa Roihan)

Untitled #4 (3) - Zusfa Roihan
0 1.656

Lukisan “Untitled #4 (2008)” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Zusfa Roihan.

Untitled #4 (2008) – Zusfa Roihan
  • Pelukis : Zusfa Roihan
  • Judul : “Untitled #4 (2008)”
  • Tahun : 2008
  • Media : Charcoal on Paper
  • Ukuran : 58 × 80,3 cm

Deskripsi Lukisan “Untitled #4 (2008)”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, kontemporer. Dengan teknik melukis menggunakan media arang di atas kertas. 

Karakteristik Karya

Zusfa Roihan adalah pelukis yang menggunakan metode variabel dan media di atasnya. Dalam karya seni, Zusfa biasanya menggunakan jenis gaya, metode dan menggabungkan dengan berbagai jenis wacana untuk membuat variabel formulasi. Ia juga tertarik untuk mengeksplorasi ide dan masalah tentang lukisan, lansekap, dan sejarah.

Abstraksi Bagi Zusfa Roihan

Secara sederhana, lukisan abstrak Zusfa terwujud melalui proses mengamati, memilah, memilih, menganalisa dan menghadirkan kembali berbagai unsur atau idiom dari lukisan-lukisan modern Indonesia terdahulu.

Pada sebagian besar lukisan Zusfa, tercipta dari hasil pengamatannya terhadap unsur-unsur seni rupa dalam lukisan tiga seniman yaitu Achmad Sadali, Oesman Effendi, dan Fajar Sidik.

Maka, jika dalam lukisan Zusfa kita mendapati garis atau bentuk-bentuk lonjong yang meliuk-liuk dan warna-warna mentah yang terang hal itu terinspirasi dari lukisan Oesman Effendi. Kumpulan berbagai bentuk geometris yang berjejer beserta permainan komposisinya terinspirasi dari lukisan Fajar Sidik. Bentuk segitiga, bidang-bidang warna lebar dan warna-warna yang berat atau redup terinspirasi dari lukisan Achmad Sadali.

Semua itu menjadi unsur utama pembentuk lukisan abstrak Zusfa. Berbagai unsur seni itu hadir secara bersamaan dalam kanvas-kanvas Zusfa, bisa saling berdampingan maupun tumpang tindih. Misalnya, bentuk-bentuk lonjong yang membengkok atau meliuk bersanding dan bertumpuk dengan bentuk segitiga dan kumpulan persegi, persegi panjang, trapesium, dan lingkaran. Bidang-bidang warna lebar menjadi latar belakang, dan warna-warna terang tidak mustahil bersanding dan tumpang tindih dengan warna-warna redup.

Perpaduan itu dan beberapa lagi lainnya secara imajiner menghasilkan ruang yang bersaf-saf dalam lukisan abstrak Zusfa dan berbagai unsur rupanya dapat saling bertukar posisi dalam saf-saf tersebut.

Skema Dan Pandangan Zusfa Dalam Seni Abstrak

Melihat lukisan abstrak Zusfa dan menelusuri proses penciptaannya, memungkinkan kita menandai beberapa hal. Tidak saja menandai pengalaman yang mungkin kita dapat dari lukisan-lukisan Zusfa. Tapi bisa jadi juga menandai soal skema berpikir yang sedang disusun Zusfa dalam memandang persoalan seni lukis, khususnya soal lukisan abstrak.

Zusfa tidak meniru persis visual Achmad Sadali, Oesman Effendi atau Fajar Sidik. Ada ruang bagi Zusfa untuk menggubah visual itu sesuai keinginannya. Ada abstraksi di situ, tapi bukan abstraksi terhadap lingkungan, melainkan abstraksi terhadap kode visual lukisan-lukisan sebelumnya.

Lukisan abstrak Zusfa adalah sarana baginya mengapungkan (mengangkat) persoalan seni lukis abstrak di Indonesia dan caranya untuk mengungkapkan persoalan itu dalam visual. Secara imajiner menciptakan ruang yang bersaf-saf dalam lukisannya–ada ilusi ruang di situ.

Maka, lebih dalam lukisan Zusfa tidak lagi “menganut” salah satu gagasan utama dalam seni lukis abstrak yang diajukan kritikus Clement Greenberg yaitu soal ‘kedataran’ (flatness). Gagasan yang menekankan bahwa soal utama dalam lukisan adalah sifat datar kanvas dan persoalan dalam seni lukis itu sendiri.

Lukisan Zusfa, boleh jadi memperlihatkan kecenderungan lukisan abstrak saat ini. Di era seni rupa kontemporer seperti yang ditulis Asmudjo Irianto dalam tulisannya “SENI LUKIS ABSTRAK INDONESIA” bahwa dalam kemunculannya kembali, seni lukis abstrak tak lagi memegang prinsip-prinsip modernisme formal yang ketat, melainkan lebih cair dan tidak menolak kenyataan di luar seni.

Tema Humor

Mengalihkan kejenuhan hidup dalam kejenakaan, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan karya Zusfa Roihan.

Ia merangkum berbagai peristiwa dalam bentuk kartun, komik, maupun lukisan satire dengan lelucon yang ditampilkan dalam bentuk ironi, sarkasme, dan parodi.

Zusfa menggunakan istilah “ruwet” untuk merepresentasikan peristiwa dari kacamatanya sendiri. Orang-orang cerdas yang sebenarnya bodoh, kepintaran yang hanyalah kamuflase, penguasa negeri yang culas, pejabat main sulap, atau rakyat melarat. Itulah realitas yang terjadi, yang kerap membuatnya “tergelitik” menyampaikan kritik, mulai dari sosial, politik, kemanusiaan, korupsi, teknologi, sampai seks sekalipun lewat hobinya dalam melukis.

Menilik “Otak Kartun” Zusfa, kita seolah diajak membuka diri, merefleksikan berbagai hal yang terjadi maupun yang kita alami di sekitar kita. Lalu kemudian menertawakannya, mengkritik, sekaligus merenungi arti kehidupan itu sendiri.

Tema Grateful Dead

Lepas dari lelucon satire tentang kehidupan, kita beranjak pada “kematian”. Identik dengan kehilangan, duka, kematian nyatanya tak selamanya menyedihkan. Ada pula budaya yang menganggap kematian sebagai awal dari perjalanan baru setelah selesai di fase kehidupan. Berbagai pesta diadakan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah meninggal, bukan dengan upacara berkabung yang menyedot tangis dan menyita kebahagiaan.

Sementara berhadapan dengan kematian dalam tema “Grateful Dead”, kita diajak melihatnya dari sisi yang berbeda. Kematian bukan lagi tentang sesuatu yang menakutkan, menyedihkan, melainkan proses yang layak disyukuri karena pada akhirnya nanti siapa pun akan sampai ke tahap itu.

Kehidupan dan kematian. Dua fase bertolak belakang ini sama-sama menyimpan misteri yang mesti direnungi. Kehidupan dan kematian menghasilkan beragam interpretasi, tergantung dari sisi mana kita memandang.

Dan dari sana pula mampu “menyentil” para pelakunya, seniman dan penikmat karya seni, untuk menciptakan dan menikmati karya seni indah yang juga kaya interpretasi.

Misalnya ada yang menafsirkan bahwa kematian bisa terlihat jauh lebih indah dari kehidupan yang sekadar penuh kamuflase.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://zusfa-roihan.com http://zusfa-roihan.com/portfolio/ https://googleweblight.com/i?u=https://danoeht.wordpress.com/2015/10/09/tentang-zusfa-lukisan-abstraknya-2/&hl=id-ID
Comments
Loading...