Lukisan “Wajah Pada Wayang-wayang” (Ivan Sagito)

Wajah Pada Wayang-wayang - Ivan Sagito
0 1.774

Lukisan “Wajah Pada Wayang-wayang” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Ivan Sagito.

Wajah Pada Wayang-wayang – Ivan Sagito
  • Pelukis : Ivan Sagito
  • Judul : “Wajah Pada Wayang-wayang”
  • Tahun : 2006
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 44,5 cm x 34cm

Deskripsi Lukisan “Wajah Pada Wayang-wayang”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya realisme, surealisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Dalam lukisan ini terlihat figur-figur manusia yang terselip di bawah wayang. Mungkin menyiratkan bahwa kita hidup seperti wayang, kita berkamuflase. Karakter yang kita munculkan berbanding lurus dengan seberapa percaya kita kepada penonton yang melihat, ketika penonton hanya menginginkan hiburan, kita hanya dapat menunjukkan kebahagiaan, kekonyolan yang bisa menghibur mereka tanpa mereka peduli sebenarnya bagaimana perasaan kita sesungguhnya. Tidak ada yang tahu siapa kita sebenarnya selain diri kita sendiri. Orang hanya menerka, seperti melihat topeng dan karakter wayang dalam sebuah pertunjukan.

Karakteristik Karya

Ivan Sagito adalah salah satu seniman yang paling menonjol terkait dengan surealisme Yogja, sebuah gaya yang muncul di tahun 1980-an. Jenis ekspresi ini seringkali dipandang sebagai reaksi terhadap pergeseran dekorativisme (seni rupa yang menonjolkan penyederhanaan bentuk dengan jalan mengadakan distorsi) atau realisme di bawah era Soeharto.

Karya-karyanya seringkali bersifat satir dengan simbolik, mengeksplorasi tema kemanusiaan dan isu-isu sosial.

Ivan Sagito dikenal sebagai seorang seniman introvert dan misterius, namun karya seninya cukup terkenal di dunia seni.

Teknik Melukis Ivan Sagito

Ivan terkenal dengan teknik lukisnya yang menggunakan impasto, yaitu sebuah teknik lukis dengan menumpuk cat di atas kanvas. Teknik inilah yang ia gunakan dan masih dipertahankannya.

Sejak awal berkarya, corak karyanya tidak pernah berubah kecuali tema dan obsesinya, karena ia berkarya sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Ivan juga menggunakan teknik melukis realistik untuk membuat gambar terlihat realistis. Keluar dari ketegangan ini, ia berusaha untuk menggambarkan ketidakpastian kehidupan sehari-hari, terutama karena hal itu berdampak pada orang-orang yang tidak berdaya dalam menghadapi kemiskinan dan ketidakadilan.

Ivan Sagito mengatakan: “Bagi saya, hidup selalu pergi, berbeda dari yang kita harapkan. Ini adalah alasan mengapa saya cenderung untuk mengekspresikan ketidakpastian melihat kehidupan di lingkungan saya, saya mendapat kesan bahwa semua orang dikendalikan oleh kekuatan yang tak terlihat”.

Subjek Lukisan Ivan Sagito

Subjek Ivan Sagito yang sering dituangkan ke dalam karya-karyanya adalah orang-orang tradisional Jawa ia amati dari perjuangan kehidupan di Yogyakarta.

Ia telah menyatakan: “Mereka berjuang untuk bertahan hidup, tapi mereka menerima apa pun yang terjadi pada mereka.” Dalam persiapan untuk membuat sebuah lukisan, ia mengambil beberapa foto dari subjek dalam upaya untuk menangkap realitas batin mereka.

Ivan Sagito hampir selalu melukis sosok manusia berulang kali dalam satu pekerjaan, menggambarkan mereka dalam pergeseran pose atau situasi yang berbeda.

Mencermati tema yang digeluti Ivan, bisa ditarik konklusi atau kesimpulan, proses kreatif Ivan adalah dunia suwung (Suwung merupakan kata yang berasal dari Bahasa Jawa, yang berarti kosong atau tiada) yang ditempuh secara solitaire. Situasi ini lebih dekat dengan sunyi, atau jauh dari gemuruh. Booming lukisan adalah dunia yang bergemuruh.

Pergulatan Ivan dengan sunyi untuk mencari alternatif jawaban terhadap persoalan kemanusiaan, mungkin saja mengingatkan kita pada pernyataan sejarawan Arnold Joseph Toynbee, yang menuturkan bahwa perbaikan peradaban seringkali dilakukan oleh para cendekia yang mengasingkan diri dari gemuruh supaya ia bisa khusyuk menangkap ilham.

Beberapa Objek Lukisan Ivan

Objek yang kerap dilukis Ivan, juga koherensi dengan symbol-simbol kesunyian semisal daun pisang yang sudah mengering, gendongan, rambut, dan pulung gantung (menggantung diri).

Tema Daun Pisang

Ivan pun bicara tentang filosofi daun pisang. ”Dari hijau menjadi kuning, dari ada menjadi tiada. Dalam bahasa Budi Dharma, daun pisang itu berkelebat-kelebat seperti tubuh kita,” paparnya.

Tema Gendongan

Periode berikutnya, Ivan – yang pernah pameran di Australia, Jepang, USA, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, dan beberapa kota di Indonesia ini mengusung tema gendongan dalam karya seni rupanya. Gendongan dimaknai sebagai sesuatu yang selalu melekat pada diri manusia.

”Tidak sekadar gendongan sebagai gendongan yang merupakan bagian terpisah dari manusia. Tetapi gendongan adalah suatu hal yang melekat, sesuatu yang harus dipikul oleh setiap insan manusia.” Jelas pelukis yang pada 2003 pernah mengikuti program Fellowship Artists dalam Resident-Vermont Studio Center, Amerika Serikat.

Tema Rambut

Ivan juga pernah terkesima dengan peran rambut dalam seluruh sendi kehidupan manusia, baik filosofi maupun peran riil dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjadi mahkota bagi manusia, rambut juga memberi pelajaran tak ternilai bagi manusia. Rambut, kata Ivan, memiliki daya juang dan daya hidup tersendiri.

Judul-judul seperti ”Dia Ingin Tambahkan Tubuh di Tubuhnya”, ”Hidup Bermuatan Mati”, ”Long Sleep”, ”Air Alir”, ”Soul”, ”Moving to Another Dimension”, ”Imagi Pada Tiang Jemuran”, dan ”Kefanaan Abadi” adalah contoh karya Ivan ketika ia khusyuk memasuki tema rambut.

Tema Pulung Gantung

Periode rambut kini sudah nyaris selesai. Ia mulai periodisasi tema baru dalam karya seninya, yaitu pulung gantung. Pulung gantung adalah kepercayaan yang sampai kini masih dianut sebagian masyarakat Gunungkidul tentang ”tradisi” bunuh diri dengan cara menggantung. Figur perempuan desa tampak menonjol dalam karya-karyanya.

Menurut Ivan periodisasi tema pada karyanya tidak dibatasi secara kaku oleh waktu. Tidak serta-merta ketika periode tersebut selesai, kemudian beralih ke yang lain. Pada periode rambut misalnya, ia masih melukis dengan tema gendongan.

Suatu karya, menurut Ivan, tidak harus selalu rasional, tapi lebih banyak mendasarkan pada intuisi. Sesuatu yang tiba-tiba datang, bahkan tanpa diundang.

Menurutnya, pemaknaan terhadap sesuatu yang membuatnya tertarik untuk melukis lebih banyak hal yang bersifat personal. Terkait dengan pengalaman pribadi. Hal-hal personal tersebut, ia visualisasikan dalam karya seni dengan simbol-simbol yang bersifat umum, hingga tidak mengherankan terjadi pergeseran persepsi ketika orang lain melihatnya.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source http://lelang-lukisanmaestro.blogspot.com http://lelang-lukisanmaestro.blogspot.com/2016/08/lukisan-dan-biografi-ivan-sagita.html?m=1 http://gugahjanari.blogspot.com/2011/04/ivan-sagita-kefanaan-dan-absurditas.html?m=1
Comments
Loading...