Lukisan “Wanita Brasil” (Sudjana Kerton)

Wanita Brasil - Sudjana Kerton
0 6.116

Lukisan “Wanita Brasil” merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Sudjana Kerton.

Wanita Brasil – Sudjana Kerton
  • Pelukis : Sudjana Kerton
  • Judul : “Wanita Brasil”
  • Tahun : 1990
  • Media : Oil on Canvas
  • Ukuran : 110 cm x 80 cm

Deskripsi Lukisan “Wanita Brasil”

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya ekspresionisme. Dengan teknik melukis menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Dalam lukisan ini, pelukis menggambarkan seorang wanita yang berasal dari Brasil.

Karakteristik Karya

Era Revolusioner

Sudjana Kerton (22 November 1922 – April 1994) adalah seorang pelukis Indonesia. Lahir di Bandung di tengah-tengah transisi politik negara dari era kolonial Belanda menjadi Republik Indonesia yang merdeka, lukisan Kerton menunjukkan era revolusioner Indonesia.

Sudjana Kerton adalah seorang seniman dari sebuah generasi yang sadar global, politik aktif, dan sangat terlibat dengan pertanyaan estetika dan formal. Kerton diakui sebagai salah satu seniman Indonesia yang paling asli dan kontroversial.

Sanento Yuliman pernah mengatakan bahwa lukisan Kerton cenderung “cerewet” alias ‘bercerita banyak’. Melihat lukisan Kerton, kita seperti mendengar cerita, mengamati satu demi satu peristiwa yang ada di dalamnya.

Selain karena pengaruh Kendar Kerton, saudaranya, Affandi dan Hendra Gunawan di Pelukis Rakyat, kekuatan narasi dan kepekaan menarik garis spontan ini hampir pasti didapatnya dari pengalaman menjadi wartawan gambar di Patriot, koran terbitan Yogyakarta yang dipimpin oleh Usmar Ismail semasa revolusi.

Sebagaimana wartawan, Kerton ‘pantang’ ketinggalan berita. Ia harus mengabadikan momen revolusi fisik itu. Dari sinilah ia banyak ‘melatih’ gerak tangan dan garisnya, kepekaan visualnya untuk dapat menangkap dan mengabadikan suasana perjuangan.

Semasa 1945-1949, saat ia bekerja di Patriot, Kerton menyumbangkan berita berupa gambar, sketsa peristiwa revolusi fisik, atau pertempuran yang berlangsung, baik di Bandung maupun di Yogyakarta.
Mungkin karena pengalaman itu pula, Kerton tidak menggambarkan rakyat dan kehidupan sosial dengan sudut pandang ‘orang asing’. Ia ada bersama masyarakatnya.

Kerton, walaupun sempat beberapa waktu hidup di luar negeri, Belanda, Perancis, AS, Meksiko, sembari belajar seni rupa, dan berpameran (sekitar 1950-1976), tetap kembali ke tanah kelahirannya, Pasundan, dan mencatat aktivitas rakyat di sana.

Kemampuan seorang Sudjana Kerton paham betul terhadap orang Indonesia, karena ia menjadi bagian dari apa yang dilukiskannya, dengan kekuatan konstruktif yang digenggamnya: yakni semangat hidup.

Tema Sosial

Dalam sebagian besar lukisannya, di sana ada keriuhan masyarakat kecil, aktivitas pedesaan dan denyut hidup perkotaan yang diangkat lewat aktivitas figur-figurnya.

Mereka, figur-figur dalam lukisan Kerton berelasi lewat aktivitas yang dilakukan: tidak hanya lewat perjumpaan figur secara konkret, namun lewat konteks, atmosfer, suasana yang ada. Atmosfer ini terlihat, misalnya dalam lukisan “Pasar” (1986).

Di sana kita melihat interaksi dari tukang cukur rambut tidak hanya dengan orang yang sedang dicukur, namun juga dengan penjual buah di seberangnya. Artinya, di sini, Kerton cenderung tidak memberikan fokus dominan pada sosok tertentu, atau aktivitas tertentu, melainkan beberapa aktivitas hadir bersamaan sehingga memperkuat ‘atmosfer’ suasana suatu tempat yang dikenal dengan sebutan “pasar” itu.

Demikian juga dengan lukisan berjudul “Sidewalk Scene” (1980). Berbagai aktivitas ‘tumpang tindih’ dalam satu kanvas. Ada penjual makanan, montir sedang bekerja, lalu lalang orang, antrean, dan sebagainya.

Selain itu, Kerton juga menghadirkan aktivitas khusus, seperti pertunjukan topeng monyet (Street Circus, 1988), Kuda Lumping, Adu Ayam (1985), Pertunjukan Wayang Golek (1983), Aktivitas Petani kentang (Potato Digger, 1986), Suasana di Pangkalan Becak, Sundanesse Traditional Wedding (1988), dan sebagainya.

Lukisan “Senja”

“Senja” yang dibuat pada tahun 1987 menggambarkan seorang penggembala dengan sepotong bambu di tangan kiri, berdiri pada kerumunan itik-itik sembari memberikan makan. Tampak pada latar belakang matahari menjelang terbenam warna kemerahan seakan memberi salam perpisahan kepada mahluk lain sebelum menyusup masuk keperaduannya.

Dalam lukisan berjudul “Senja” (1987) ini menghadirkan dunia rakyat bawah dalam suatu momen yang unik, yaitu penggembala itik di waktu senja. Dunia itu menjadi unik, karena pelukisnya memiliki sudut pandang yang lain, baik secara visual maupun dalam empati jiwanya.

Kerton selalu membuat gerak tubuh rakyat jelata dalam deformasi yang mengekspresikan beban hidup, namun sekaligus mengandung kelucuan (naif). Dilatarbelakangi terbenamnya matahari senja dan itik-itik yang berkelompok dalam formasi diagonal (mengembangkan suasana puitis sekaligus tertekan).

Lukisan ini menunjukkan pencapaian periode terakhirnya, setelah ia pulang ke Indonesia dan bermukim di Bandung. Kerton mengikuti kecenderungan abstrak ekspresionisme yang berkembang pada masa itu (ketika bermukim di Amerika dan Eropa), sehingga mencari cara pengungkapan bentuk secara individual yang khas.

Pesan Tersirat Lukisan “Senja”

Ia tidak mencari anatomi bentuk manusia, melainkan berusaha mengungkapkan psikologi kehidupan yang dijalaninya. Psikologi masyarakat jelata dan marjinal, akhirnya paling banyak menyentuh dan mudah menggerakkan impulsi estetik Sudjana Kerton. Karya “Senja” ini merupakan salah satu ungkapan psikologi tentang kejujuran dalam menangkap kehidupan tersebut.

Lukisan Nonfiguratif dan Kubisme

Di balik realismenya, Kerton pernah melukis nonfiguratif. Beberapa gaya kubis tampak muncul dalam karyanya, yaitu di sekitar 50-60an, Nude Seated (1952), Penjual Apel (1963), dan Wayang Golek Performance (1967).

Jika dibandingkan dengan sebagian besar lukisannya di era 80-an, tampilannya sangat berbeda. Bisa jadi, ini pengaruh lukisan abstrak non figuratif yang berkembang di Bandung masa itu. Kini, sebagian karyanya diabadikan di Sanggar Luhur, sanggar yang didirikannya semasa ia hidup di Bukit Dago, Bandung.

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source https://www.mutualart.com/ https://www.mutualart.com/Artist/Sudjana-Kerton/FB683831FCEA487A/Artworks http://creationofchaos.blogspot.com/2011/09/?m=1
Comments
Loading...