Pelukis Suwaji

Seorang perupa yang tidak riuh dengan pendapat

Karya Suwaji
0 3.171

Pelukis Suwaji adalah sosok yang memiliki etos kerja yang menggelegak. Ia memiliki vitalitas, daya hidup dan daya kerja, yang senantiasa menyala. Suwaji bukanlah tipe seorang yang riuh dengan pendapat, atau argumentasi-argumentasi tentang berbagai hal. Suwaji adalah seorang yang memiliki semangat kerja dengan sepenuh cinta.

Biodata Pelukis Suwaji
  • Nama : Suwaji
  • Lahir : Yogyakarta, 5 Mei 1942
  • Pendidikan : Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia STSRI/ASRI 1977
  • Profesi : Pelukis, Staf Pengajar di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Rupa (ISI) Yogyakarta
  • Penghargaan : Wendy Sorensen Memorial Fund (penghargaan terbaik dari Amerika) sebagai Karya Terbaik 1977

Suwaji adalah bungsu dari 5 bersaudara, dan dialah satu-satunya yang berkutat di dunia kesenian sebagai pelukis. Ayahnya, Muhamad Mustar (alm), adalah tokoh agama di Kapanewon Sayegan Kabupaten Sleman, sedangkan ibunya (alm) adalah pecinta batik dan lukisan. Sering dalam suatu kesempatan, Suwaji kecil diajak ibunya ke pasar. Meski uangnya pas-pasan, ibunya akan menyisihkan sebagian untuk membeli lukisan-lukisan yang dijual ketika itu, di Pasar Beringharjo.

Lukisan-lukisan tersebut dibingkai rapi, diberi kaca. Sedangkan neneknya adalah seorang pecinta batik, bahkan sangat paham dalam prosesnya membatik, khususnya motif-motif tertentu seperti Sidomukti, yang karya-karyanya cukup dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Persentuhan Suwaji dengan seni rupa, seperti sudah terurai, ketika di rumah terpasang gambar-gambar pilihan ibunya, atau saat diajak memilih-milih gambar di pasar yang akan dibeli ibunya. Sementara itu pendidikan agama menjadi perhatian utama keluarga itu. Namun keinginan dan bakat masing-masing mendapatkan kesempatan yang sama luasnya.

Karena itulah bakat menggambar Suwaji tetap mendapatkan tempat, bahkan kebebasan yang penuh. Masuk Sekolah Teknik (ST) tahun 1956, ia bertemu Pak Djoto, gurunya yang mengajar menggambar mistar, ternyata Pak Djoto ini memiliki kerja sambilan di rumah sebagai pelukis potret. Hubungan guru-murid ini berlanjut tidak saja di sekolah, melainkan juga di rumah sang guru. Di sana Suwaji bukan belajar menggambar mistar melainkan belajar melukis.

Tahun 1959 Suwaji masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), namun karena miskinnya informasi, ia masuk di jurusan kriya. Setahun kemudian ia pindah di jurusan seni lukis. Sejak itulah Suwaji menemukan dunianya, setiap hari berkutat dalam dunia ekspresi seni lukis bersama-sama Nyoman Gunarsa, Subroto SM, Aming Prayitno.

Pembawaan Sikap

Dari pembawaannya, Suwaji tidak mencermin sifat arogan, kekasaran dan sifat keras. Namun yang tampak dari lukisan-lukisannya adalah kesan yang sebaliknya, sesuatu yang tegar, pasti, dan ekspresif. Sapuan-sapuan dan goresan yang tajam, melebar, tidak begitu detail dan rinci, bentuk-bentuk yang mengesankan keras dan kokoh, serta warna-warna berat yang saling bertabrakan dan kemudian saling bersaling bersanding, menjadi satu paduan orkestrasi.

Itulah tampaknya persilangan pribadi Suwaji yang justru tampak utuh ketika dipahami lewat lukisan-lukisannya. Lukisannya jauh dari objektivitas rekaman atas objek. Namun merupakan subjektivitas Suwaji dalam melihat dan memahami objek-objeknya. Objek bagi Suwaji adalah motif yang dapat leluasa dimainkan. Selebihnya adalah sikap estetik, kekuatan artistik, persepsi atas makna, serta gejolak yang diperjuangkan Suwaji agar dapat tumpah total di atas kanvas.

Semoga bermanfaat para pecinta seni lukis Indonesia.

Source Informasi Lukisan Indonesia Suwaji
Comments
Loading...