0 13.894

Yunizar, lahir Tahun 1971 dan menghabiskan tahun-tahun pembuatannya karyanya di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta.

Ia mengungkapkan dirinya dengan gaya ekspresifnya yang canggih, diartikulasikan melalui komposisi yang menyenangkan dan palet yang halus.

Dibuat terutama dengan akrilik dan pensil, karyanya menonjol dalam hal tekstur, warna, sikat dan ritme. Palet warna dingin yang terkendali – kuning, coklat dan hijau – sengaja dikotori dan tercoreng dalam pengerjaan dan pengerjaan ulang kanvasnya. Hasilnya adalah karya yang sangat taktil yang memikat penonton untuk merasakan potongannya.

Pameran Yunizar

  • Pameran tunggalnya di National University of Singapore Museum, pada tahun 2008 menjadi batu penjuru gaya tanda tangan sang artis. Pengulangan dan teknik pencatatan menandai keinginan untuk makna tidak terbatas dalam perspektif. Garis spontan merupakan cerminan penghambatan sang seniman dengan bentuk konstriksi yang bisa dikenali teks dan gambar.

Karya-karyanya terdiri dari penggambaran yang tidak terbaca di garis kanvas, muncul sebagai fragmen teks yang berusaha menemukan bentuk atau representasi cerdas. Bekerja dengan warna terbatas, kebanyakan monokromatik, karyanya mengungkap permainan garis dan tekstur yang datang bersamaan untuk menciptakan ritme dan komposisi yang jelas. Kesederhanaan elemen visual dalam karyanya, menurut Yunizar, karyanya adalah hasil penilaian estetika pribadi. Dia mencari kecantikan, terutama dalam hal sepele dan dalam hal apa yang dianggap tidak berguna dan tidak penting. Untuk menangkap intuisi dan impuls, itulah tujuan agung sang seniman. Juga, ada sejarah panjang tradisi lisan atau Sastera Lisan dalam budaya Minangkabau. Kebutuhan untuk mencari narasi dalam berbagai bentuknya selalu menjadi pusat pidato adat (orasi upacara) yang merupakan inti budaya Minangkabau. Hal ini terbukti dalam rangkaian Coretan, dimana ruang metode yang digunakan sangat penting untuk narasi. Posisi prosa puitis dalam pusaran garis yang melintang kanvas termasuk kebutuhan untuk melepaskan diri dari garis besar apa yang telah dibangun sebelumnya. Ada keengganan untuk membiarkan keheningan membentuk spidol yang membuat penonton dengan bacaan yang terkandung. Sebaliknya abstraksi bertindak sebagai sensasi tanpa akhir.

Karya Lukisan

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source Indormasi Pelukis Indonesia Yunizar
Comments
Loading...