Zainal Beta

Pelukis Indonesia

Zainal Beta
0 2.572

Zainal Beta, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 19 April 1960. senang menggambar sejak usia 9 tahun, Kendati orangtuanya melihat bakat Zainal, mereka tak bisa menerima kenyataan kalau anaknya menekuni bakat itu, karena sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarga (dua saudara lelakinya sudah meninggal), ia sangat diharapkan menjadi tumpuan keluarga. Orangtuanya ingin ia sekolah, lalu menjadi pegawai.

Patuh pada orangtua sekaligus ingin menekuni bakat, ia tetap bersekolah dan diam-diam ia suka ke Benteng Rotterdam untuk bergabung dengan para pelukis.

Perjalanan Karier Zainal Beta

  • Akhir tahun 1970-an ketika masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP) PGRI 4, ia sudah menjadi kartunis untuk media lokal, seperti Pedoman Rakyat.
  • Kemudian ia juga mengikuti kursus di Sanggar Jumpandang, pimpinan Bahtiar Hafid, seorang pelukis Makassar.
  • Selepas SMP, ia melanjutkan ke SMA sesuai keinginan orangtua.
  • Sempat lima kali keluar-masuk SMA yang berbeda-beda, karena Ia ingin belajar di sekolah yang juga memberi pelajaran melukis, namun, tak berhasil menemukannya.
  • Setamat SMP, di tempat ia kursus melukis, ia juga menjadi pembina dan sering ikut mengajar anak-anak melukis serta membuat karikatur. Ia juga kerap mengikuti pameran dan membuat banyak lukisan.
  • Agar orangtua tak tahu aktivitas melukisnya, ia memakai nama ‘Zaenal Beta’, tak menggunakan nama lahirnya, Arifin.
  • Hasil lukisannya pun disembunyikan di Benteng Rotterdam.
  • Tahun 1980, kepada orang tuanya, ia mengatakan tak ingin lagi sekolah dan hanya ingin melukis.
  • Ia minta pengertian dan restu mereka, setelah itu, ia tinggalkan rumah selama enam tahun, berkelana ke berbagai tempat hingga kembali lagi pada 1986.

pada tahun 1980 ketika di Sanggar Jumpandang, ia terpilih mewakili pameran lukis yang diadakan Dewan Kesenian Makassar (DKM) untuk memilih perwakilan yang akan membawa nama Sulawesi Selatan ke tingkat nasional dan ia menyanggupinya. Namun, karena sibuk mengajar anak-anak melukis, ia lupa pada janjinya. Begitu panitia meminta hasil karyanya untuk dipamerkan, ia kaget. Maka, di tengah waktu yang terbatas dan hujan deras, ia tetap membawa kertas-kertas gambar ke sanggar. Malam itu ia bertekad membuat dan menyelesaikan lukisan.

Saat itu juga muncul ide untuk mengikutkan lukisan tanah pertamanya di pameran. Beragam komentar muncul atas lukisan itu. Ada yang terkejut, mengkritik, memandang sinis, bahkan menyebutnya gila.

Penghargaan

  • Penghargaan :
    Philips Morris Award, 60 besar dalam kompetisi seni lukis se-ASEAN (1986)
  • Delapan Besar Internasional Lomba Karikatur Anti Apartheid (2003)
  • Juara ketiga Lomba Poster Pemberdayaan Perempuan di Beijing, China

Karya Lukisan

Semoga bermanfaat bagi Anda para pecinta seni lukis Indonesia.

Source Informasi Pelukis Indonesia #TrenSosial: Zainal Beta ingin satukan tanah Indonesia dalam lukisan
Comments
Loading...